TINJAUAN ASPEK EKOLOGI PENERAPAN MULTISISTEM SILVIKULTUR PADA UNIT PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI [1])

OLEH

CECEP KUSMANA [2])


Filosofi Ekologis Pengelolaan Hutan Sebagai Renewable Resource

Hutan merupakan salah satu sumberdaya yang bersifat dapat dipulihkan (renewable atau funding resource).  Oleh karena itu pengelolaannya harus berdasarkan pada prinsip-prinsip sustainable (sustainable – based principle) dari semua manfaat yang bisa diperoleh dari hutan sebagai sumberdaya sekaligus sebagai ekosistem.

Berhubung di alam ini antara ekosistem yang satu berinteraksi dengan ekosistem yang lain, maka konteks pengelolaan hutan harus berdasarkan pada anggapan bahwa hutan merupakan salah satu bagian integral dari ekosistem yang lebih besar dimana hutan tersebut berada, yaitu suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai satu kesatuan bentang darat.

Dalam rangka mencapai azas kelestarian (sustainable), laju ekstraksi sumbedaya hutan tidak boleh melebihi laju daya pemulihan dari ekosistem hutan tersebut.  Dalam konteks penebangan kayu, besar volume kayu yang ditebang tidak boleh melebihi riap volume tegakan hutan, sedangkan dalam konteks pemanfaatan secara umum, pemanfaatan hutan sebagai ekosistem tidak boleh melebihi daya dukung maksimum dari ekosistem tersebut.

Secara ideal, derajat pemanfaatan hutan harus diupayakan pada tingkat daya dukung optimalnya atau paling tinggi berada pada kisaran nilai antara daya dukung optimal dengan daya dukung maksimumnya.  Hal ini dimaksudkan agar pemanfaatan hutan tidak menimbulkan derajat gangguan lingkungan yang melebihi daya asimilatif dari ekosistem hutan tersebut.

Hutan dapat menghasilkan berbagai macam barang (kayu dan hasil hutan bukan kayu) dan jasa lingkungan (air, oksigen, keindahan alam, penyerap berbagai polutan, dan lain-lain), sehingga hutan bersifat multimanfaat.  Sehubungan dengan ini pengelolaan hutan seyogyanya tidak boleh memaksimumkan perolehan dari satu macam manfaat saja (misal kayu) dengan mengorbankan manfaat-manfaat lainnya, karena berbagai macam manfaat hutan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh.  Hutan dapat secara berkelanjutan memberikan manfaatnya bila proses ekologis internal dalam ekosistem hutan tersebut tidak terganggu atau terganggu tetapi tidak menimbulkan stress ekologis yang bersifat irreversible.  Oleh karenanya, ekosistem hutan harus dibuat tahan terhadap gangguan dengan cara mempertahankan keanekaragaman hayati (biodiversity) hutan yang tetap tinggi.  Dengan demikian, pengelolaan hutan harus dilakukan secara tepat agar ragam dan derajat pemanfaatan hutan, yang tidak lain adalah berupa “tindakan gangguan” terhadap hutan, harus dilakukan sedemikian rupa agar tidak melampaui daya recovery dari ekosistem hutan yang bersangkutan sebagai respons terhadap gangguan tersebut.

Urgensi Ekologis Penerapan Multisistem Silvikultur pada Unit Pengelolaan Hutan Produksi di Indonesia

Menurut Departemen Kehutanan (2005), kawasan hutan Indonesia saat ini seluas 120,35 juta ha dimana telah ditunjuk oleh Menteri Kehutanan seluas 109,9 juta ha.  Kawasan hutan tersebut terdiri atas hutan konservasi seluas 23,24 juta ha, hutan lindung seluas 29,1 juta ha, hutan produksi terbatas seluas 16,21 juta ha, hutan produksi seluas 27,74 juta ha dan hutan produksi yang dapat dikonversi seluas 13,67 juta ha.  Selanjutnya dilaporkan bahwa sampai dengan tahun 2002 luas kawasan hutan yang terdegradasi tercatat seluas 59,7 juta ha, dengan laju deforestasi berkisar antara 1,6 juta hinga 2,5 juta ha per tahun (Baplan, 2002 dalam Nawir et al., 2008).

Kartodihardjo dan Supriono (2000) melaporkan bahwa pada tahun 2001 terdapat 361 perusahaan HPH yang masih aktif dengan luas areal operasi sekitar 36,42 juta ha.  Jumlah perusahaan HPH tersebut hanya sekitar 55% dari jumlah perusahaan HPH (sebanyak 652) pada tahun 1998.  Pengelolaan hutan oleh para pengusaha HPH tersebut telah menciptakan areal hutan bekas tebangan dengan kualitas tegakan yang sangat beragam.  Pada beberapa lokasi areal hutan bekas tebangan ini menjadi sangat terdegradasi sehingga menjadi lahan kritis karena areal-areal tersebut telah mengalami intensitas penebangan yang tinggi yang diperparah oleh adanya praktek penebangan liar oleh pihak lain dan/atau kebakaran hutan atau diakibatkan oleh faktor alamiah seperti longsor dan banjir bandang.  Kondisi semacam ini telah menciptakan suatu situasi dimana areal-areal hutan bekas tebangan HPH berupa kawasan hutan yang secara lanskap tersusun oleh mosaik-mosaik dengan kualitas lahan dan tegakan yang beragam, yang umumnya secara keseluruhan berubah menjadi lahan yang rendah produktivitasnya.

Mosaik-mosaik yang terbentuk pada kawasan hutan tersebut secara alamiah ada yang bisa pulih seperti semula, baik dalam waktu yang relatif cepat maupun dalam waktu yang relatif lambat, ada yang mengalami suksesi menjadi masyarakat tumbuhan yang secara fisiognomi berbeda dengan masyarakat tumbuhan seperti semula, ada yang bersifat disklimaks, bahkan mungkin ada mosaik yang berupa tanah kosong yang tandus.  Oleh karena itu, pengelolaan kawasan hutan produksi yang sudah berupa mosaik tersebut sangat rasional kalau menggunakan lebih dari satu sistem silvikultur atau menggunakan multisistem silvikultur sesuai dengan heterogenitas kualitas lahan/tegakan dari mosaik tersebut.

Persyaratan Ekologis Penerapan Multisistem Silvikultur

Berhubung Indonesia termasuk kedalam wilayah tropis, maka sedikitnya ada tiga prinsip persyaratan ekologis pengelolaan ekosistem hutan dengan multisistem silvikultur, yaitu:

(1)      Meminimasi gangguan terhadap tanah

Kondisi iklim daerah tropis yang kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan berbagai jenis mikroorganisme tanah menyebabkan proses pelapukan serasah berjalan secara terus-menerus dengan laju yang cukup tinggi untuk menghasilkan bahan organik tanah yang selanjutnya berubah menjadi unsur hara bagi tumbuhan melalui proses mineralisasi.  Kondisi tanah tersebut bersifat fragil terhadap gangguan pengurangan/penghilangan tutupan vegetasi, karena kalau tutupan vegetasi berkurang signifikan atau hilang sama sekali (misal karena deforestasi atau kebakaran) maka bahan organik tanah, terutama humus, akan cepat hilang terbawa surface run-off air hujan, sehingga secara perlahan-lahan tanah menjadi miskin hara.  Oleh karena itu, dalam upaya pengolahan lahan, gangguan terhadap struktur tanah harus diusahakan seminimal mungkin untuk menghindari kehilangan unsur hara (nutrient) akibat surface run-off.  Upaya pengolahan lahan dengan cara minimum tillage, manual clearing dan penggunaan herbisida dalam persiapan lahan menyebabkan sedikitnya kehilangan unsur hara dari tanah, sehingga menunjang upaya konservasi unsur hara pada tanah hutan yang bersangkutan (Jordan, 1985; Vitousek dan Matson, 1984; Lal, 1981 b).

(2)      Memelihara ketersediaan bahan organik tanah.

Semua upaya peningkatan produktivitas lahan pada prinsipnya merupakan upaya meningkatkan jumlah persediaan bahan organik tanah. Bahan Organik Tanah (BOT) merupakan natural slow-release fertilizer yang berperan sebagai reservoar penyimpan nutrient dan beragam komunitas mikroba aktif. Mikroorganisme tersebut sangat penting dalam mencegah kehilangan nutrient dan memasok nutrient terhadap tanaman, karena aktivitas mikroba menghasilkan nutrient secara perlahan (sedikit demi sedikit) tapi kontinyu dalam bentuk yang dapat diserap tanaman (soluble form). Dengan demikian metoda pengolahan lahan yang harus diterapkan adalah metoda yang membiarkan ekosistem di bawah tanah tidak terganggu atau metoda yang memungkinkan cepat pulihnya ekosistem di bawah tanah dari gangguan. Sehubungan dengan ini, Wade dan Sanched (1983) menyarankan penggunaan mulsa (mulching) dan pupuk hijau (green manure) sebagai pengganti penggunaan pupuk inorganik dalam budidaya pertanian intensif di daerah tropis sebagai upaya mengkonservasi nutrient.

(3)      Mempertahankan Keanekaragaman.

Suatu komunitas tumbuhan yang secara struktural mempunyai keanekaragaman jenis yang tinggi atau suatu komunitas yang bersifat polyculture akan memperlihatkan fenomena ”overyielding” bila dibandingkan dengan komunitas monoculture. Beberapa kelebihan polyculture tersebut adalah sebagai berikut:

a). Secara struktural komunitas tumbuhan dengan jenis beragam atau polyculture dapat memanfaatkan energi cahaya matahari lebih besar daripada komunitas monoculture karena kompleksnya susunan jarak dan tata daun dari masyarakat tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut.

b).  Keanekaragaman jenis membatasi pertumbuhan secara eksponensial dari populasi serangga herbivora karena secara spasial tanaman inang terpisah satu sama lain dan habitat yang beragam mendukung populasi predator yang beragam dalam jumlah yang relatif lebih besar. Selain itu dalam suatu polyculture umumnya hadir jenis-jenis tumbuhan yang bersifat alelophatik yang mengeluarkan zat-zat allelokimia  yang bersifat racun bagi beberapa jenis serangga herbivora dan gulma.

c). Keberadaan banyak jenis tumbuhan dalam suatu komunitas akan menjamin permukaan tanah tertutup vegetasi sepanjang waktu.

d). Suatu komunitas polyculture akan mempunyai produksi primer yang relatif besar karena adanya interaksi mutualistik diantara species yang ada.

e). Kehadiran beragam jenis pohon pada komunitas polyculture akan memperkaya unsur hara topsoil dengan unsur-unsur hara yang dibebaskan oleh pelapukan batuan induk dan bahan organik yang terpendam di tanah yang cukup dalam melalui penyerapan unsur hara tersebut oleh akar-akar tunjang yang menembus kedalam tanah tersebut. Proses pengayaan unsur hara dari top-soil tersebut terjadi melalui guguran serasah pohon yang bersangkutan ke permukaan tanah.

f).  Beragam jenis tumbuhan pada komunitas polyculture akan mempunyai sistem perakaran yang kompleks yang berkembang baik di dalam tanah dengan kedalaman yang berbeda-beda. Sistem perakaran tersebut umumnya mengandung proporsi akar halus (yang berperan menyerap unsur hara) yang relatif besar dan akar tanaman dari berbagai kelas ukuran yang efektif untuk mencegah terjadinya longsor dan erosi. Selain itu, sistem perakaran tersebut memungkinkan penyerapan unsur hara dari seluruh horizon tanah yang ada.

(4)      Ukuran dan bentuk areal yang diganggu.

Di daerah tropika, pembersihan lahan atau pemanenan hutan dalam ukuran yang relatif kecil yang tersebar didalam suatu hamparan hutan atau hamparan kanopi vegetasi yang padat atau pemanenan hutan dalam bentuk strip (jalur) menyebabkan berkurangnya erosi dan kehilangan unsur hara, akibat surface run-off. Selain itu, vegetasi pada jalur yang tidak ditebang akan menangkap unsur hara yang tercuci, sehingga secara keseluruhan kehilangan unsur hara dari ekosistem tersebut menjadi relatif kecil (Jordan, 1985). Apabila pada daerah hulu sungai dilakukan penebangan hutan atau bentuk pemanfaatan lahan lainnya, maka pembangunan hutan sepanjang sungai atau saluran air yang ada merupakan suatu keharusan untuk upaya konservasi unsur hara. Adapun keharusan relatif kecilnya areal hutan yang diganggu (ditebang), baik oleh praktek penebangan maupun pemanfaatan lain, akan memberikan peluang pada komunitas tumbuhan untuk cepat pulih dari gangguan dan memungkinkan penyebaran benih (biji) dan propagul mikoriza oleh burung dan mamalia ke areal yang terganggu (Jonson, 1983).

Pembangunan Hutan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan

Hutan dan Keseimbangan Air

Pembangunan hutan dapat menjaga keseimbangan air jika pembangunan hutan dilaksanakan secara bijaksana dengan memperhatikan :

1.   Jenis pohon yang ditanam disesuaikan antara tingkat transpirasi jenis tersebut dengan jumlah curah hujan areal penanaman. Misalnya jika jenis yang ditanam mempunyai evapotranpirasi sebesar 3000 mm/th, maka jenis tersebut hanya dapat ditanam pada daerah dengan curah hujan > 3000 mm/th, karena jika ditanam pada daerah dengan curah hujan < 3000 mm/th, maka daerah tersebut akan mengalami defisit air.

2.   Penanaman hutan sebaiknya menciptakan strata tajuk, paling tidak ada dua strata, yaitu strata kanopi pohon dan strata tumbuhan penutup tanah. Dengan kombinasi bentuk daun yang runcing dan sempit serta dengan adanya strata tajuk tersebut dapat memperkecil massa dan kecepatan butir air hujan yang jatuh ke lantai hutan. Jika lantai hutan penuh dengan tumbuhan penutup tanah, serasah dan humus, maka pembangunan hutan tersebut dapat mengurangi aliran permukaan (air larian) dan dapat meningkatkan infiltrasi air (suplesi air). Dengan berkurangnya air larian dan meningkatnya suplesi air maka pembangunan hutan dapat mengurangi bahaya banjirdan erosi serta meningkatkan airsimpanan (air tanah).

Pada lahan kritis atau tanah kosong (tidak bervegetasi) air menguap dari permukaan tanah dan diganti oleh air dari bawahnya, laju penguapan lebih tinggi daripada laju naiknya air, sehingga tanah cepat kering dan laju penguapan menurun. Tanah kosong yang ditutupi serasah, laju penguapannya lebih kecil karena serasah menghalangi penguapan air. Namun pada tanah berhutan, lengas tanah diserap oleh perakaran dibawa ke daun, karena permukaan daun yang luas dan perakaran yang ekstensif sehingga laju penyerapan dan penguapan air lebih besar dibandingkan dengan tanah kosong dan tanah kosong yang ditutupi serasah.

Hutan juga menahan air hujan yang jatuh, air hujan yang jatuh tertahan oleh tajuk (intersepsi), air intersepsi menguap kembali ke udara. Pada hujan yang tidak lebat seluruh air hujan dapat diintersepsi., makin besar tajuk dan biomassa makin banyak air hujan yang diintersepsi. Banyaknya hujan yang dintersepsi bervariasi 10-40 % (Soemarwoto, 1991). Setelah tajuk hutan jenuh air, baru air hujan jatuh atau menetes dari tajuk sebagai air lolosan.

Sebagian hujan mengalir melalui batang (aliran batang) dan selanjutnya mengalir ke tanah. Aliran batang dan air lolosan akhirnya sampai lantai hutan sebagai curahan atau presipitasi. Air di lantai hutan diserap serasah dan humus (intersepsi serasah). Setelah serasah jenuh dengan air, sebagian air akan mengalir di atas permukaan tanah sebagai air larian. Sebagian air meresap ke tanah mengisi lengas tanah menjadi air simpanan, pengisian air simpanan disebut suplesi. Suplesi diperbesar/dipermudah kalau ada serasah (ada intersepsi oleh serasah) karena tanah menjadi gembur akibat aktivitas makhluk hidup tanah. Makin besar suplesi, maka makin kecil, baik air larian maupun aliran air sungai. Pembuangan serasah dapat meningkatkan air larian sebesar 4 % (Soemarwoto, 1991).

Air simpanan adalah sumber untuk aliran air dalam jangka panjang, sebagian keluar melalui mata air dan menambah aliran air. Hutan dapat pula mengurangi air simpanan melalui evapotranspirasi, sehingga hutan mempunyai dua pengaruh yang berlawanan terhadap besarnya aliran dasar. Hutan dapat meningkatkan suplesi air, tetapi hutan juga mengurangi air simpanan karena evapotranspirasi, hal ini sangat terasa pada musim kemarau

Di AS, konversi hutan campuran berdaun lebar menjadi hutan Pinus telah menyebabkan penurunan aliran air, yaitu pada umur 23 tahun Hutan tersebut menurunkan aliran air 20 – 25 cm atau 20 % aliran air sebelum konversi (Soemarwoto, 1991). Umumnya pembangunan hutan menambah aliran air pada waktu hutan masih muda, setelah dewasa pengaruh tersebut menurun. Konversi hutan untuk pemukiman dan industri serta jalan mengakibatkan peresapan (suplesi) air menurun, sehingga air larian dan aliran air meningkat, sehingga volume air simpanan menurun, kapasitas mata air menurun dan aliran dasar akan menurun (bahkan mengering) akibatnya sungai dari parennial (mengalir tahunan) menjadi sungai periodik (musiman). Sumur pun tidak dapat diandalkan terutama musim kemarau

Pada reboisasi dan penghijauan lahan kritis menjadi hutan yang berhasil, maka laju evapotranspirasi dan suplesi air simpanan akan meningkat. Reboisasi dan penghijauan yang berhasil akan menaikkan peresapan air, sehingga air simpanan naik untuk memasok mata air dan sumur, walaupun sebenarnya aliran air total berkurang karena naiknya laju intersepsi dan evapotranspirasi. Jika pembangunan hutan menggunakan dengan jenis yang mempunyai evapotranspirasi yang tidak cocok tidak akan meningkatkan air simpanan karena air simpanan habis terpakai oleh evapotranspirasi. Transpirasi selain tergantung pada jenis tumbuhan juga tergantung pada tingkat kesuburan tanah, semakin subur tanah semakin tinggi laju transpirasi.

Dalam suatu DAS, indikasi DAS yang rusak adalah jika aliran maksimumnya (Qmaks) besar dan aliran minimumnya (Qmin) kecil, sehingga nisbah Qmaks/Qmin besar. Sebagai contoh Soemarwoto (1991) melaporkan DAS Citanduy mempunyai nisbah Qmaks/Qmin dari 813:1 tahun 1968 menjadi 27:1 tahun 1983, jadi reboisasi berhasil, tetapi aliran air tahunan turun drastis dari 9.300 juta m3 tahun 1968 menjadi 3.500 m3 tahun 1983. DAS Citarum tahun 1919-1923 rata-rata 47 % CH nya menjadi aliran air dan pada 1970-1975 meningkat menjadi 52 %, aliran air naik karena luas hutan menurun sekitar 33 % tahun 1960.

Hutan dan Pengendalian Banjir serta Erosi

Pembangunan  hutan  dapat mengendalikan bajir dan erosi jira dilaksanakan secara bijaksana dengan memperhatikan :

1.   Pembangunan hutan mengikuti strata tajuk dan pohon yang ditanam mempunyai bentuk daun kecil dan ujung meruncing, maka dapat memperkecil massa dan kecepatan butir air hujan yang jatuh ke lantai hutan yang dapat menyebabkan erosi percikan.

2. Pembangunan hutan dengan menjaga keberadaan tumbuhan penutup tanah, serasah dan humus yang dapat mengurangi aliran permukaan (air larian) dan dapat meningkatkan infiltrasi air (suplesi air). Dengan berkurangnya air larian dan meningkatnya suplesi air, maka pembangunan hutan dapat mengurangi bahaya banjir dan erosi serta meningkatkan air simpanan (air tanah).

3. Pembangunan hutan tidak dilakukan pada tanah yang tidak stabil (karena kemiringan dan topografi tinggi) serta mempunyai sifat erosivitas tinggi (jenis dan sifat tanah yang mudah tererosi), maka pembangunan hutan tidak akan meningkatkan bahaya erosi, banjir dan tanah longsor.

Pembangunan hutan dapat menurunkan koefisien air larian. Koefisien air larian 0, jika semua curah hujan meresap kedalam tanah, sedangkan koefisien air larian 1 jika semua curah hujan mengalir sebagai air larian. Pengelolaan hutan yang baik dapat memperkecil koefisien air larian sehingga dapat mengurangi bahaya banjir, erosi dan tanah longsor. Karenanya jika hutan dikonversi menjadi penggunaan non kehutanan apalagi yang berada di wilayah hulu, maka dapat menimbulkan banjir bandang. Resiko banjir tersebut akan menjadi lebih besar oleh faktor topografi yang curam dan curah hujan yang tinggi.

Dengan demikian hutan dapat mengurangi resiko banjir melalui :

1.   Intersepsi hujan oleh tajuk dan serasah yang akibatnya dapat mengurangi jumlah air hujan sampai tanah (presipitasi efektif)

2.   Peresapan air kedalam tanah diperbesar sehingga air larian menjadi kecil, namun jika hujan deras berlangsung dalam waktu yang lama banjirpun akan terjadi, tetapi naiknya banjir pelan-pelan bukan banjir bandang

3.   Pada tanah gundul yang padat resiko terjadinya banjir bandang menjadi besar

Erosi air disebabkan oleh energi dalam benda yang bergerak yaitu energi kinetik. Besarnya energi kinetik tergantung pada massa benda yang bergerak dan kecepatan gerak, makin besar ukuran benda yang bergerak dan semakin cepat kecepatan benda bergerak maka makin tinggi energi kinetik yang terjadi. Butir air hujan yang jatuh dari awan atau tajuk pohon (air lolosan) mempunyai massa dan kecepatan, massa butir air ditentukan oleh Berat Jenis dan Volume. Butir air lolosan mempunyai volume lebih besar daripada air hujan, sehingga energi kinetiknya lebih besar pula. Besarnya volume air lolosan ditentukan oleh lebar dan bentuk ujung daun penetes, makin lebar ujung daun penetes makin besar volume air lolosan, Air lolosan yang jatuh dari daun bambu mempunyai volume lebih kecil dibandingkan air lolosan pada jambu biji (karena daun bambu sempit dan runcing, sedangkan daun jambu biji bulat dan tumpul). Makin tinggi intensitas hujan makin besar pula diameter air hujan. Makin tinggi intensitas hujan, makin besar erositas hujan, karena volume dan kecepatan terminal butir air hujan yang makin besar. Oleh karena itu dengan pemilihan jenis pohon yang mempunyai daun sempit dan runcing serta adanya strata tajuk dapat mengurangi massa dan kecepatan air lolosan yang jatuh. Dikombinasikan dengan adanya tumbuhan penutup tanah, serasah dan humus, maka dapat memperkecil erosi percikan, lebih lanjut dapat mengurangi peluang timbulnya erosi tanah.

Hasil penelitian Irsyamudana (2004) di Sumberjaya, Lampung, yang merupakan salah satu contoh kasus dari perubahan fungsi hutan menjadi lahan pertanian menunjukkan bahvva laju infiltrasi tertinggi pada hutan sebesar 5,2 mm/detik dan terendah pada sistem kopi monokultur sebesar 2 mm/detik. Limpasan permukaan dan erosi tertinggi terdapat pada kopi monokultur yaitu 141,9 mm dan 272,8 g/m2. Sedangkan limpasan dan erosi terendah terdapat pada sistem hutan yaitu 36,9 mm dan 208.8 g/m2. Jadi fungsi hutan sebagai lahan konservasi belum dapal digantikan oleh sistem lain. Widianto el al. (2004) melakukan penelitian untuk memahami secara kuantitatif perubahan perilaku limpasan permukaan dan erosi akibat alih guna lahan hutan menjadi sistem kopi monokultur. Hasil penelitian menunjukkan penebangan hutan alam mengakibatkan limpasan dan erosi meningkat luar biasa. Limpasan permukaan kumulatif di hutan alam hanya 27 mm, hanya sepertiga dari hutan yang baru ditebang (75 mm). Limpasan permukaan terbesar terjadi pada tanaman kopi berumur 3 tahun (124 mm) dan kehilangan tanah terbesar terjadi pada tanaman kopi berumur 1 tahun. Selain itu, penelitian Rajati (2006) di hutan Cipadayungan, Sumedang. areal Perum Perhutani Unit III Javva Barat dalam rangka optimalisasi pemanfaatan lahan kehutanan pada aspek kemiringan lereng dan besarnya erosi menunjukkan bahwa erosi yang terjadi pada kelas kemiringan lereng 0-15 % dan 15-30 % adalah erosi yang masih dapat ditolerir, sedangkan erosi pada kemiringan lereng > 30 % lebih besar dari erosi yang dapat ditolerir.

Hutan dan Pemanasan Global

Masalah hangat dunia yang terkait dengan issu lingkungan saat ini adalah masalah pemanasan global dan perubahan iklim dunia dimana pada tanggal 3 -14 Desember 2007 Indonesia menjadi tuan rumah KIT dunia tentang Pemanasan Global dan Perubahan Iklim yang diselenggarakan oleh PBB. Serentak pula masyarakat Indonesia menyambutnya dengan gerakan penanaman 10 juta pohon. Pembangunan hutan mempunyai peran yang penting dalam kaitannya dengan issu ini.

Pemanasan global adalah meningkatnya suhu permukaan bumi yang disebabkan oleh kenaikan intesitas efek rumah kaca (ERK). Efek rumah kaca terjadi karena meningkanya gas-gas rumah kaca (GRK); seperti uap air CO2 Ozon, NfO, CFC dan dengan meningkatnya GRK radiasi sinar inframerah dan radiasi lain dari bumi yang semula lepas ke angkasa luar terperangkap oleh GRK yang menyebabkan peningkatan suhu permukaan bumi. Sekitar 50 % pemanasan global disebabkan oleh CO2, dimana emisi CO2 disebabkan oleh penggunaan bahan bakarfosil dan kerusakan/pembakaran hutan.

Proses di alam yang dapat mengubah CO2 menjadi bahan organik dan O2 hanya tumbuhan melalui proses fotosintesis, sehingga penanaman dan pertumbuhan pohon merupakan salah satu harapan untuk mengurangi pemanasan global dengan memperbanyak penanaman pohon terutama tanaman pohon cepat tumbuh. Adanya O2 di atmosfer benar-benar karena adanya tumbuhan, sementara O2 adalah lambang kehidupan.

Disamping itu pohon dan hutan menyimpan CO2 dalam bentuk biomassa, serasah dan humus. Hampir 50 % biomassa hutan adalah berupa C, jika rata-rata hutan tropika kita mempunyai biomassa 400 ton/ha, maka dia menyimpan 200 ton C/ha. Jadi disamping menyimpan C, pohon yang sedang tumbuh juga menyerap CO2 dan sebagian besar disimpan dalam bentuk biomassa. Oleh karena itu dalam Kyoto Protokol salah satu cara mengurangan emisi CO2 di atmosfer dengan mekanisme fleksibel yaitu negara maju emitor C dapat memberikan kompensasi kepada negara berkembang yang mau menanam dan menjaga hutannya (perdagangan karbon).

Penanaman pohon dalam pembangunan hutan jelas merupakan salah satu usaha penyerapan CCh yang dapat mengurangi ERK. Penanaman dengan jenis cepat tumbuh dan dalam daur tertentu dipanen dan ditanami kembali, apalagi jika produk hasil kayu yang diperoleh digunakan untuk barang awet (plywood, kayu konstruksi dan kayu serpih) maka penyerapan dan penyimpanan CCh akan berlipat lebih tinggi dibandingkan hutan alam, karena hutan alam yang sudah klimaks tidak banyak menyerap CO2 lagi. Mekanisme ini hendaknya juga dapat menjadi salah satu mekanisme fleksibel dalam perdagangan karbon.

Jika pembangunan huatan dengan menanam jenis cepat tumbuh Acacia mangium, dengan riap pada umur 10 tahun sebesar 43, 9 m3/ha/tahun (Alrasyid, 1984) atau riap diameter batang A. mangium diperkirakan 2 cm/th/pohon, pada umur 10 tahun setiap ha terdapat 500 pohon dengan diameter mencapai 20 cm dan tinggi dapat mencapai 10m, dengan angka bentuk pohon 0,7, maka volume per pohon mencapai sekitar 0,94 m3/pohon atau untuk 500 pohon/ha mencapai 469 m3/ha. Jika massa jenis A. mangium rata-rata 600 kg/ m3, maka biomassa A. mangium tersebut mencapai 281.400 kg atau 281,4 ton. Jika kadar C dalam biomassa sebesar 50 % maka kadar C yang tersimpan dalam biomassa tersebut sebanyak 140,7 ton atau 516,4 ton CO2/ha. Jika tiap tahun hutan tersebut dapat menanam 1000 ha saja maka selama 10 tahun CO2 yang disimpan dalam bentuk biomassa sebanyak 0,52 juta ton CO2.

Saat ini telah banyak penelitian kandungan biomassa di hutan tanaman di Jawa dan di Luar Jawa, baik dengan pengukuran langsung (panen) maupun dengan cara allometrik. Rusolono (2006) mendapatkan data biomassa hutan sengon murni sebesar 162,4 ton/ha, dan hutan sengon campuran sebesar 147,6 ton/ha

di Jawa. Ismail (2005) untuk hutan Acacia di PT. MHP (pada diameter pohon 5,6-13,1) diperoleh data biomassa sebesar 14,86 ton/ha. Langi (2007) untuk tegakan cempaka dan wasian (Elmerrillia sp.) di Sulawesi Utara melaporkan nilai biomassa masing-masing sebesar 299,85 ton/ha dan 254,83 ton/ha.

Sebagai ilustrasi, Soemarwoto (1991) melaporkan bahwa untuk menyerap kembali CO2 yang dihasilkan oleh penggunaan bahan bakar fosil batubara dalam pembangkit tenaga listrik PLTU 100 MW diperlukan hutan tanaman Eucalyptus seluas 14.000 ha.

Da Silva et. al. (1999) telah melakukan pengukuran biomassa dan akumulasi hara di hutan Eucalyptus grandis (untuk tujuan pulp dan kertas) di Brazil pada 45 contoh kayu berumur 3. 5 dan 7 tahun yang mempunyai jarak tanam 3×2 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akumulasi hara lebih banyak terjadi pada umur antara 3-5 tahun yaitu sebesar 223 %. sedangkan umur 5-7  tahun kenaikan akumulasi hara hanya 20 %. Persaingan antara pohon kemungkinan menjadi alasan penurunan tersebut. Jumlah hara Ca,  K dan P naik dari tahun ketiga ke tahun ketujuh, sementara N dan Mg turun setelah tahun kelima. Laju akumulasi biomassa pada kulit lebih rendah dibandingkan dengan laju akumulasi pada kayu untuk semua umur. Data akumulasi hara dan biomassa pada kayu di hutan Eucalyptus grandis pada umur 3, 5 dan 7 tahun dapat dilihat pada Tabel 1

Tabel 1. Akumulasi hara dan biomassa kayu pada tegakan hutan Eucalyptus grandis pada umur 3, 5 dan 7 tahun

Umur (tahun) Akumulasi hara (g) Biomassa (kg)
N P K Ca Mg
3 44.5 5.5 43.9 44.9 11.7 38.8
5 78.5 10.6 56.0 87.0 28.5 88.8
7 78.1 18.4 67.1 107.9 23.2 106.8

Lasco et al. (2004) melaporkan bahwa riap biomassa dan karbon pada tegakan hutan tanaman yang cepat tumbuh (Paraserianthes falcataria dan Gmelina arborea) semakin kecil dengan semakin meningkatnya umur dan relative lebih besar daripada hutan alam (Tabel 2).

Tabel 2.    Riap rata-rata tahunan (MAI) biomassa dan karbon di hutan tanaman di Mindanao, Filipina.

Jenis Umur (tahun) Biomassa MAI (ton/ha/lh) CMAI (ton C/ha/th)
Paraserianthes falcataria 1 4 20.20 7.82
P. falcalaria 2 5 11,20 6.80
P falcalaria 3 7 8,40 6.20
7 2,20 0.52
P falcalaria 4 9 5,30 5,41
9 3,70 1,44
Gmelina arborea 1 7 11,30 5,51
G. arborea 2 9 10,50 4,37
G. arborea 3 9 9,60 4,32
Swietenia macrophylla 16 19,60 7,33
Hutan alam 100 4,90 1,19

Catatan : %C = 45%

Sementra biomassa di atas tnah dan kerapatan karbon hutan di Filipina dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Biomassa di atas tanah dan kerapatan karbon hutan di Filipina

Tipe Hutan Umur (th) Kadar C (%) Kerapatan biomassa (ton/ha) Kerapatan karbon (ton/ha) Lokasi
Hutan Alam:
Hutan Lindung Primer 50 370-520 165-260 Makiling
Hutan Sekunder 44,6 465,9 207,9 Makiling
Semak Belukar 45,4 63,8 29,0 Makiling
Hutan Tanaman :
Gmelina arborea 9 45,0 120,7 54,3 Mindanao
Paraserianthes falcataria 9 45,0 108,2 48,7 Mindanao
Acacia auriculiformis 9 45,0 42,5 19,1 N. Ecija
Tectona grandis 13 45,0 22,3 10,0 N. Ecija
Pinus kesiya 13 45,0 107,8 48,5 N. Ecija
Eucalyptus pellita 4 45,0 34,0 15,3 N. Ecija
Dipterocarpaceae 80 45,0 132,3 59,0 Makiling
Alang-alang 44,5 20,1 8,9
Agroforestry :
Kelapa + Kopi 44,0 99,2 43,6 Makiling
Coklat + Narra 44,0 191,6 84,3 Makiling

PUSTAKA

Alrasyid, H. 1984. Aspek – aspek pembangunan HTI. Proceeding Lokakarya Pembangunan Timber Estates, Kini Menanam Esok Memanen, 29 -31 Maret 1984, Fakultas Kehutanan IPB.

Da Silva, H.D, C.A. Ferreria and A.F.J. Beloote. 1999. Quantification of the biomass and nurients in the trunk of Eucalyptus grandis at different ages. Workshop Proceedings : Rehabilitation of Degraded Tropical Forest Ecosystems. V, Kobayashi, S. et. al. (Ed.). Bogor, 2-4 November 1999. Indonesia.

Departemen Kehutanan. 2005. Rencana strategis Departemen Kehutanan Tahun 2005-2009. Departemen Kehutanan Republik Indonesia, Jakarta.

Irsyaimulana, E. 20(14. Dampak kepadatan penutupan tanah dan ketebalan serasah terhadap limpasan permukaan dan erosi di Sumberjaya, Lampung. Jurusan tanah, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Kompilasi Abstrak Agroforestri di Indonesia. Arifin et al. (editor). IPB-INAFE-SEANAFE-ICRAF.

Janson, C.H. 1983. Adaptation of fruit morphology to dispersal agents in a neotropical forest. Science, 219: 187-189.

Jordan, C.F. 1985. Nutrient cycling in tropical forest ecosystem. John Wiley & Sons, New York.

Kartodihardjo, H. dan Supriono, A. 2000. The impacts of sectoral development on natural forest conversion and degradation: the case of timber and tree crop plantations in Indonesia. Center for International Forestry Research (CIFOR). Bogor

Lal, R. 1981b. Deferestation of tropical rainforest and hydrological problems. In R. Lal an E. W. Russell (eds), Tropical agricultural hydrology: watershed management and land use, pp. 131-140. Wiley, New York.

Langi, Y.A.R. 2007. Model penduga biomassa karbon dan potensi serapan karbon pada tegakan hutan rakyat cempaka dan wasian. Tesis Sekolah Pascasarjana IPB. Tidak diterbitkan.

Lasco, R.D., F.B. Pulhin, J.M. Roshetko and M.R.N. Banaticia. 2004. LULUCF ( Climate Change Mitigation Projects in the Philippines : A Primer. World Agroforestry Centre.

Mangundikoro,   A. 1984. Rencana Umum Pembangunan Timber Estates. Proceeding Lokakarya Pembangunan Timber Estates, Kini Menanam Esok Memanen, 29 – 31 Maret 1984, Fakultas Kehutanan IPB.

Nawir, A.A., Murniati dan L. Rumboko, 2008. Rehabilitasi hutan di Indonesia : Akan kemanakah arahnya setelah lebih dari tiga dasawarsa?. Center for International Forestry Research (CIFOR). Bogor

Rajati, T. 2006. Optimalisasi pemanfaatan lahan kehutanan dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan dan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat desa sekitar hutan (Studi kasus di Kabupaten Sumedang). Disertasi Doktor Sekolah Pascasarjana IPB.

Rusolono, T. 2006. Model pendugaan persediaan karbon tegakan agroforestri untuk pengelolaan hutan milik melalui skema perdagangan karbon. Disertasi Sekolah Pascasarjana Fakultas Kehutanan IPB. Tidak diterbitkan.

Soemarwoto, O. 1991. Indonesia dalam kancah isu lingkungan global. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Vitousek, P.M. and P.A. Matson 1984. Mechanisms of nitrogen retention in forest ecosystems: a field experiment. Science, 225: 51-52.

Wade, M.K., and P.A. Sanchez. 1983. Mulching and green manure applications for continuous crop production in the Amazon Basin. Agronomy Journal, 75: 39-45.

Widianto, D. Suprayono, H. Noveras, R.H. Widodo, P. Purnomosidhi dan M. van Noordwijk. 2004. Konversi hutan menjadi lahan pertanian : apakah fungsi hidrologis hutan dapat digantikan sistem kopi monokultur. Kompilasi Abstrak Agroforestri di Indonesia. Arifin et al. (editor). IPB-INAFE-SEANAFE-ICRAF.


[1]) Karyatulis disajikan pada Lokakarya Nasional PENERAPAN MULTISISTEM SILVIKULTUR PADA PENGUSAHAAN HUTAN PRODUKSI DALAM RANGKA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN pada tanggal 23 Agustus 2008 di IPB International Convention Center (IICC) Bogor.

[2]) Guru Besar pada Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB.

Tags: ,

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.